Powered by Blogger.

April 25, 2013

I Miss Being An Auditor

Karena satu dan banyak hal, saya belum dapat memejamkan mata malam ini. Spontan mengambil laptop dan..

Saya ingin menulis.

Tulisannya saya buat, tentunya dari lubuk hati yang paling dalam, saya mungkin akan berubah pikiran saat saya esok pertama kali membuka mata, namun malam ini, saya sangat kangen menjadi seorang auditor.

I mean it.

Ceritanya pagi tadi, saya pergi ke sebuah mall untuk melakukan interview di bilangan Jakarta. Di mall karena, calon bos saya ini, sudah mengenal saya sebelumnya, jadi rasanya lucu aja kalo interview-nya pake bentuk formal. Oh ya, saya mengenakan jeans karena kan acaranya nostalgia dan ngupi-ngupi.

Nah tadi itu saya sebenernya ngerasa nggak enak badan banget, karena sehari sebelumnya saya mengkonsumsi suplemen zat besi yang mana saya nggak pernah merasa nyaman seketika saya mengkonsumsinya. Untuk mengantisipasi hal-hal buruk terjadi, sebelum berangkat, semua peralatan perang saya siapkan, mulai dari obat maag yang paling penting, cemilan, cardigan, air minum, dompet (suka lupa soalnya), payung, bekal bubur dan sayur (masih agak takut makan jajanan di luaran yang extra bumbu).

Berangkat dari rumah, saya keringat dingin, plus nervous takut ada apa apa di jalan, sambil wanti-wanti sopir taksinya, "Pak, kalau saya muntah, kita balik lagi ke Karawaci ya." Seperti prediksi saya, menuju Jakarta di jam-jam orang berangkat kantor, macet itu lagi lucu-lucunya memang. Sambil melototin argo, saya cek-cek badan yang ternyata nggak kenapa-kenapa walopun mobil berjalan tersendat. Padahal dulu selama hamil, saya udah nggak karuan nih dengan kondisi begini, tapi pagi tadi, dengan keadaan maag kambuh, ternyata saya baik-baik saja, sama sekali nggak mual and guess what?

Maid yang saya daulat untuk menemani saya lah yang muntah. Astaga. Dia pake acara buka kaca mobil karena nggak kuat AC mobil, ya salam, untung nggak ada kapak merah yah di jalan tol.

Liat Jakarta macet dan rame gitu, herannya saya excited sekali. Lihat orang cantik cantik dan ganteng ganteng masuk ke gedung kantor mereka yang keren. Dulu saya tidak menganggap itu keren, tapi sekarang saya merasa itu keren sekali. Dalam hati saya bilang, been there, done that. Belum lagi waktu lihat kantor saya dulu. Teriak Itu itu itu kantor sayaaaaaaa. Saya kangeeeeeen. Kebetulan di depan kantor saya itu mantan atasan saya sedang berjalan di depannya. Akh! It was like  a movie without sound!

Tiba tiba saya rindu saya yang dulu. Yang begitu aktifnya. Begitu semangatnya. Begitu menggebu-gebu saat bercerita dengan kolega pada sebuah makan siang. Begitu merasa seru ketika harus mengendap-ngendap keluar kantor karena ingin makan siang di tempat yang lebih jauh. Begitu pedenya menawar ongkos bajaj. 

Sepulang dari interview, saya langsung bercerita pada Ibu saya. Bahwa saya baik-baik saja meski sebelumnya saya merasakan mual karena maag. Saya mengatakan pada Ibu saya bahwa saya bahagia menjalani hari ini, Dan Ibu saya bilang..

"Mama tahu kamu suka sekali bekerja. Sejak dulu kamu anak yang aktif dan tidak bisa diam. Mulai SMA, kuliah, bahkan kamu tidak sempat menganggur dan ingin selalu berprestasi. Mama selalu ingat kata-katamu dari kecil dulu, bahwa kamu tidak ingin seperti mama yang hanya berkutat urusan rumah. Dan Mama selalu berdoa untuk itu."

Mama, maukah mendoakan saya sekali lagi untuk hal yang sama?




0 comments:

Post a Comment

  © Blogger Template by Emporium Digital 2008

Back to TOP